Tampilkan postingan dengan label cacil:puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cacil:puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Oktober 2010

memori




kau ingat ada banyak sayuran tergeletak
namun hanya ada beberapa bulir ketumbar tanpa asin
ada rasa tanpa harus kau rasa...
ada sambal tanpa cabai...
ada balado tanpa pedas...
hanya imajjinasi yang membuatnya
dan langkah kita yang merealisasikan...

butuh kerja tanpa keluh kesah
dan emosi tanpa keluar air mata

itu semua perjuangan tanpa harus kau katakan itu perjuangan

ada banyak rasa yang tersebar
ada sedikit luka yang kau tuai
dan kelelahan dengan hiasan seringai...

lalu jeda....

hilang tertelan asamnya kehidupan

Read More......

Jumat, 16 April 2010

puisi

bibir

dalam derap waktu
masih saja kau gigit bibirmu, seolah itu karet mainanmu saja..
kulihat lagi...
masih terpaku, pada ujung dinding itu..
membatasi kepanikan dengan doa...
tetap menggigit bibir..


tiba-tiba saja...sebuah sahutan merekah
hei.. takkah kau rasakan, asinnya darah..
lihat... itu masih ada... sekilas seperti titik..
disana.. pada bibir itu
dan kau biarkan

ya biarkan... karena ini akan menjadi luka
dan mungkin bisa berubah
menjadi sariawan, atau bibir yang bolong???...

Read More......

Senin, 12 April 2010

puisi

Begadang

angin masih bertiup...
enggan.. dari sepoi hingga berderak
bulan semula mengintip... lalu berayun dan melompat-lompat diantara bayang-bayang dedaunan, pohon
bintang memancarkan kelabunya... lalu tersenyum mengalahkan petromaks jalanan

ini masih kampung, daerah pelosok
dimana katak berdendang bersama jangkrik...
dan kelelawar berhambur tanpa takut celaka

dan meski rumah telah sunyi...
masih ada gemerlap tangis
dari seonggok daging.. yang meratap
dan menatap, mengharap kasih Illahi...

aku begadang...
hingga tubuh ini tak bisa begadang...
tertelan embun pagi, dan sayup-sayup mati..



Read More......

puisi


Enggan


masih dalam ingatan sang malam..
waktu bergerak enggan menyeberang...
dalam kedinginan..
dalam kekakuan...
dalam kesunyian...

air itu meleleh...
menghancurkan mata kail hati...
seraya bersujud...merintih... dan berkelakar,...
aku masih saja enggan dengan semua ini

karena itu kan menghancurkan egoku...
dan luluh atas ketidakberdayaan hati...

Read More......

puisi

aku


aku mulai bertanya...
kenapa embun enggan mencium dan bertekuk pada bumi..
pada awan yang berasak mendung
pada gelap yang bersisa pekat...

aku mulai bicara
tentang kesucian dunia dari apa yang ditinggalkannya
pada tanah yang memberkas lara
pada hangus yang mengepal marah


dan aku heran
melihat matahari masih saja angkuh..
berdiri melawan kekerasan itu sendiri..
lalu dimana kasih sayang itu harus berada???

langitkah??? bukan..
bumikah??? tidak...
semestakah?? mungkin saja
tapi yang tentu... ada hati yang merindukan...

Read More......